Sepatu Wanita Dari Gang Dolly

Sepatu wanita berhak rendah dan berwarna putih hasil kerajinan warga di kawasan Gang Dolly digunakan oleh Tri Rismaharini saat pelantikannya sebagai Walikota Surabaya untuk yang kedua kalinya. Tak hanya Risma, Wakil Walikota Surabaya Whisnu Sakti Buana juga mengenakan sepatu produksi pengrajin di bekas lokasi prostitusi terbesar se Asia Tenggara itu.

Lokalisasi Dolly yang dulu menjadi sandaran hidup bagi sekitar 800-an wisma esek-esek dan sekitar 9.000-an lebih penjaja cinta kini  sudah berubah. Dolly yang terletak di Jalan Kupang Gunung Timur kini terlihat sepi. Untuk menghidupkan kembali ekonomi eks lokalisasi Dolly, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengubahnya menjadi sejumlah rumah industri.

Sejumlah wisma yang dulu ramai oleh kupu-kupu malam dan pria hidung belang, kini dialihfungsikan menjadi industri sepatu. Salah satu contohnya di Wisma Barbara. Wisma ini dulunya cukup terkenal kini menjadi rumah kelompok usaha bersama membuat sepatu yang mulai merintis usaha sejak bulan Oktober 2014.

Ada 30 warga terdampak penutupan Dolly yang mayoritas ibu-ibu bergabung dalam kelompok usaha bersama ini. Namun setelah 7 bulan berlalu, kini tinggal 15 orang atau separuh warga yang masih bertahan di bekas wisma ini. Warga sekitar lokalisasi Dolly diberdayakan untuk menjahit bahan-bahan membuat sepatu hingga setengah jadi. Kemudian disetorkan ke pabrik sepatu untuk proses finishing.

Sejumlah warga yang ikut usaha ini mengaku mendukung perubahan ini meskipun masih belum diimbangi penghasilan yang didapat. Para anggota kelompok usaha bersama ini berharap usaha menjahit produksi sepatu menjadi usaha yang menjanjikan bagi mereka agar dapat membantu perekonomian keluarga.

Nur Hidayah, pengrajin sepatu di Koperasi Usaha Bersama (KUB) Mampu Jaya, mengatakan promosi sepatu masih di Surabaya. Konsumennya masih kalangan lurah, camat, dan pejabat di Surabaya. Menurutnya, sepatu yang diproduksi di kawasan itu berbahan kulit sapi Harga satu pasang sepatu berkualitas terbaik yaitu berkisar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu. Sementara kualitas KW super seharga Rp100 ribu sampai dengan Rp200 ribu.

"Kalau sepatunya Bu Risma itu kualitasnya baik," kata ibu satu anak itu. Nur Hidayah mengatakan mendapat bahan kulit sapi dari Magetan. Selain kualitas, warnanya beragam mulai dari putih, cokelat, dan hitam. Sedangkan menurut Safrina, 42, pengajin lain, mengaku dapat menghasilkan 10 hingga 15 pasang sepatu. Produksinya masih mengandalkan pesanan. "Alhamdulillah ada pesanan terus terutama dari pejabat Pemkot Surabaya. Harapannya, usaha ini bisa maju terus lebih baik," ujarnya.