Ada Aliran Masuk Rp 7 Miliar untuk Terorisme

PPATK menemukan adanya aliran dana sebesar Rp 7 miliar dari Australia untuk pendanaan terorisme di Indonesia. Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengaku pihaknya tengah menyelidiki hal tersebut. "Sedang kita selidiki," kata Badrodin usai menghadiri peluncuran buku berjudul 'Dari Balik TKP' karya Komisioner Kompolnas Edi Saputra Hasibuan. Peluncuran buku digelar di Gedung Mutiara, PTIK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (1/12/2015). "Informasi dari PPATK tidak harus dari sini ke sini. Bisa muter beberapa lapis. Lidiknya butuh waktu," sambungnya.

Namun begitu, lanjut Badrodin, polisi belum dapat menyimpulkan apakah pendanaan itu termasuk untuk biaya pengiriman Warga Negara Indonesia ke Suriah guna bergabung dengan Islamic State of Iraq and Syria. "Bisa saja disimpulkan, tapi perlu waktu," ujarnya. Beberapa waktu yang lalu, PPATK menemukan adanya aliran dana senilai Rp 7 miliar dari Australia untuk pendanaan terorisme di Indonesia. Sebagai tindak lanjut, lembaga intelijen keuangan ini berkoordinasi dengan Densus 88.

"PPATK dalam hal ini juga bekerjasama dengan Densus 88 untuk membuka jaringan yang di Indonesia yang dapat ditengarai dari adanya hubungan transaksi keuangan antara satu dengan lainnya dan terlacaknya hubungan transaksi keuangan dengan pihak-pihak yang diduga merupakan jaringan di luar negeri, di Australia," kata Wakil Kepala PPATK Agus Santoso dalam perbincangan, Sabtu (28/11).

Koordinasi itu termasuk membawa data transaksi keuangan ke Densus 88. Oleh Detasemen Khusus Antiteror itu, kata Agus, data akan diverifikasi lebih lanjut. Sebagaimana diketahui Densus 88 tentu sudah mengantongi nama-nama terduga teroris maupun peta kekuatannya. Data dari PPATK bisa menambah database Densus. (medanbinis)